Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Kamis, 03 Januari 2013

Being Crazy

        Setiap hari aku bekerja. Setiap hari Aku berfikir. Menguras tenaga ku, menguras fikiranku, demi  kamu dan kalian semua. Aku terus bekerja, tak kenal apa itu menyerah, apa itu sakit, apa itu outus asa. Kalian memang mungkin hanya bisa memarahi ku jika aku salah, tapi apakah kalian tau apa yang sudah aku lakukan untuk kalian? untuk kemajuan kalian? untuk kesenangan kalian? aku lakukan semua demi kalian
        Bisa dibilang aku sudah gila, hanya memikirkan kalian tanpa memikirkan diriku sendiri.
        setiap malam, setiap detik, aku bekerja sendiri. Hanya sendiri. Ya aku tau, aku memang tidak sepenuhnya tidak memikirkan diriku, aku selalu memendam perasaan sakit ku ini sendiri. Kalian tidak tahu bukan? Itu karena kalian tidak pernah sekalipun memikirkanku. Aku tidak pernah meminta kalian untuk mengerti keadaanku sekarang. Tidak pernah. Karena aku tahu, itu akan menjadi beban di kalian dan diriku sendiri, aku tidak mau semua itu terjadi.
        Aku disini. Aku memiliki teman yang selalu ada denganku, mereka adalah Setia, Kesepian, Sakit, dan Sedih. mereka selalu ada jika aku bekerja. Hanya mereka yang ada didekatku.
        Sampai sekarang. Sampai aku sudah berada di tempat ini. Dengan orang-orang yang sudah aku bantu, aku tolong. Mereka ada disekelilingku. Mereka menatapku dengan tatapan iba. Aku tidak suka. Jangan tatap aku seperti itu. Mereka menaburkan bunga yang sangat harum di sekelilingku. Tidak lama kemudian satu persatu dari mereka pergi meninggalkan aku disini. Sendiri. Seperti biasa. Ditemani sahabat dekatku tadi.
        Inilah hidupku. Melakukan semua demi orang-orang yang aku sayangi. Tidak peduli, andai pun mereka tidak akan mengenangku. Aku memang gila, yaa gila. Terlalu fokus dengan kebahagiaan oranglain. Aku memang gila. sampai aku berada ditempat inipun aku masih tetap bisa merasakan kegilaanku ini.

Selasa, 04 Desember 2012

[SHORTSTORY] Kata Maaf Terakhir

Hai Hai.. aku mau ngepost short story lagi nih hehe..
oiya shortstory ini, pernah menang loh di lomba yang Ka Titi buat diblognya huehehe, mau tau blognya? check here
Sorry yaa belum bisa ngepost You Belong With Me chapter5, soalnya masih sibuk ujian nih #eaa
okee, enjoy this story! xoxo



Gestu hanya terdiam. Tak ada kata. Sedikitpun. Suasana menjadi sangat canggung. Aku terdiam, menunggu apa yang akan Gestu katakan. Tidak satupun dari kita berdua yang berani memulai pembicaraan ini. Sunyi, sepi, bingung, sedih perasaan semua menjadi satu.

Gestu adalah kekasihku, ia memang pendiam dan cuek, biasanya dia tidak sedingin ini kepadaku. Sungguh. Aku tidak mengerti padahal selama ini aku selalu mengalah, aku selalu mengerti keinginannya, apa salahku sekarang ? andai Gestu mau mengatakan apa yang membuat dia bersikap sedingin ini aku mungkin sudah merubahnya.
Kami memang memiliki beberapa masalah belakangan ini, masalah yang yaa.. cukup kecil, tapi jangan salah, kalau Gestu sudah beraksi, masalah sekecil apa pun bisa menjadi masalah yang sangat besar.

Penah Gestu sangat marah padaku, waktu istirahat aku bermain dengan Ridho, yaa dulu kami memang memiliki sebuah hubungan, tapi itu DULU. Gestu terus menyalahkanku, memaksaku untuk mengakuinya, hingga akhirnya meminta maaf. Maaf ini bukanlah maaf yang pertama kali, aku sudah sering, cukup sering untuk meminta maaf kepadanya, yaa mungkin dia memang egois, tapi aku tidak mau dan tidak akan pernah menyalahkannya, karena Titi sayang Gestu. Sayang sekali.

Sungguh. Aku tidak bisa. Aku tidak mau kehilangan kamu, Ges. Kamu sudah terlalu banyak memberi harapan padaku yang pada akhirnya kau juga yang menghapus harapan itu.

Lagi-lagi kemarin Gestu marah kepadaku, gara-gara aku lupa mengucapkan ‘selamat pagi’. Oh god! Gestu Rosmayadi Asad! Ngertiin dikit, aku sibuk, karena kemarin aku menjadi petugas bendera. Gestu marah, dia tidak menyapaku, pulang sekolah kami berbicara tentang ini. Seperti biasa ia tidak mau disalahkan, akhirnya aku yang meminta maaf lagi padanya. Gestu egois. Titi ga suka Gestu kaya gitu! Malamnya ia marah karena aku mentionan dengan Ridho, karena sudah terlalu malam untuk bertengkar, aku langsung meminta maaf.
Yaa cape. Sungguh berat. Tapi aku sudah terlanjur sayang. Aku tidak bisa meninggalkanmu, Ges.

Suasana masih sama, aku memberanikan diri untuk memulai semua..
“Hm, Ges ?”
“Iya Ti ?”
“Hmm, gimana kemarin By One nya ?”
“Lancar Ti hehe..”
“Ges, Titi mau nanya boleh ?”
“Apa ?” sikap Gestu mulai dingin kembali.
“Hmm.. Gestu hari ini cuek deh ke Titi. Gestu kenapa ?”
“Titi tau kan, sifat Gestu tuh emang gini ?”
“Tapi semuanya beda Ges”
“Beda gimana sih Ti ? Gestu biasa aja”
“Beda Ges, beda. Jangan gini Ges, kasih tau ke Titi, Titi salah apa”
“Kamu ga salah apa-apa Ti”
“Kalau emang Titi ga salah, kenapa Gestu kaya gini ? kenapa Ges?”
“Ti, jujur, kamu milih aku atau Ridho ?”
“Jelas kamulah Ges. Apa sih yang ada difikiran kamu sampe kamu nanya kaya gini?”
“Kalau emang masih suka sama Ridho, gapapa Ti, Gestu mundur”
“Ga Ges. You! The one and only for me!”
“Gestu tau semuanya Ti, Titi masih sering ada kontak kan sama Ridho? Titi masih care  kan sama Ridho ? Titi masih...”
“Stop Ges! Listen to me! Aku sayang Gestu, please Ges, jangan kaya anak-anak gini! Ridho tuh masa lalu, lagian kita temen”
“Aku emang childish Ti. Temen ? it can be more. Kamu bisa suka lagi sama dia, atau kebalikannya kan? Gimana caranya biar aku percaya Ti?”
“Gini Ges, aku emang pernah suka dan sayang sama Ridho, tapi itu dulu, setahun yang lalu. Ges.. aku sayang kamu. Ngertiin aku, percaya aku”
“Aku ngertiin kamu ko Ti”
“Ngertiin ? apanya ? kita udah ngejalin hubungan sekitar 3 bulan, selama 3 bulan itu kita selalu ada masalah, dan hampir semuanya itu masalah kecil yang menjadi besar karna kamu yang terlalu sensitif. Dan hampir disetiap masalah aku yang minta maaf Ges! Kamu tau itu ga ? itu yang kamu bilang ngertiin ? sorry Ges, Titi ngomong kaya gini, jujur Titi cape Ges” 

Gestu hanya terdiam. Kulihat mata coklat besarnya terus berputar. Berfikir. Yaa, aku tahu Gestu baru sadar bahwa selama ini dia yang terlalu egois.
Aku menangis, menunggu jawaban apa yang akan Gestu ucap. Aku tidak sanggup lagi menahan tangisan yang terlalu banyak ini. Aku memutar tubuhku, lalu berlari, tetapi ada yang menahan, tanganku dipegang, oleh tangan yang sangat aku kenal, tangan yang pernah menolongku saat ku jatuh dilapangan, tangan yang menolongku saat kulit tanganku melepuh karna lilin batik, tangan yang selalu menghiburku saat memetik senar gitar. Tangan itu, Gestu Rosmayadi Asad. Ia menahanku agar tidak pergi meninggalkannya. Aku terdiam. Tidak membalikan tubuhku. Tubuhku kaku. Hatiku berdegup kencang. Gestu memanggil namaku dengan suaranya yang lembut, ia lalu berjalan kehadapanku. Aku tak sanggup melihat matanya, tak sanggup melihat tatapannya yang begitu tajam.

“Rizkirahmadania Putri, maafkan aku, aku terlalu egois. Aku memang kekanak-kanakan. Aku memang belum bisa mengerti perasaanmu. Maaf Ti. Aku memang tidak sempurna. Aku.. Aku.. aku salah Ti, kamu ga salah. Aku baru sadar, selama ini kamu yang selalu mengalah. Aku selalu ingin dimengerti tapi aku ga bisa ngertiin kamu, aku selalu ingin dipercaya tapi ga bisa mempercayai kamu, aku selalu ingin dimaafkan, tapi aku sendiri ga bisa memaafkan. Titi jangan pergi yaa dari Gestu. Gestu sayang Titi! Sayang banget!”
Kalimat itu ‘Gestu sayang Titi’ kalimat yang aku tunggu. Aku benar-benar tidak bisa berbicara. Tubuhku sangat kaku. Hati ini... rasanya.. abstrak.. entahlah, apakah ini senang atau terharu. Sungguh abstrak.
“Hmm, iya Ges gapapa ko, Titi juga sayang Gestu”kataku dengan suara yang sedikit gagap. Gestu langsung memeluk ku. Saat itu pula turun hujan, mungkin langit ikut senang melihat kami berdua yang sedang senang.
“Ti, Gestu sayang Titi, Titi sayang Gestu. Kita bakal selamanya bersama kan ?”
“haha Gestu bisa aja... iya Ges, selamanya!”
“Aku anterin kamu pulang yaa”
“Ga usah Ges, aku pulang sendiri aja, hati-hati yaa Ges”
“Okee, kamu juga yaa, laff Ti”
“Laff you too Ges!” Gestu lalu menyium keningku, dan pergi.

Setibanya dirumah, aku langsung menelfon Gestu. Tetapi, nomornya tidak aktif, hmm aku berfikir mungkin dia masih dalam perjalanan. Tapi selama itukah ? aku sudah menghubunginya 10 kali dalam satu jam. Gestu tetap tidak menjawabnya. Aku mulai khawatir, jantungku berdegup sangat kencang. Entah mengapa, tiba-tiba banyak kenangan yang terlintas diotakku. Hujan tak kunjung berhenti, membuat hatiku semakin bimbang. Akhirnya ada telfon masuk. Itu adalah nomor Gestu, tetapi setelah diangkat anehnya bukan Gestu yang berbicara, akan tetapi itu adalah Bundanya. Setelah menerima telfon, aku langsung jatuh tak berdaya, aku menangis, Mamah langsung menghampiriku, dan menenangkanku, tapi aku tidak bisa tenang dengan situasi seperti ini. Aku langsung berlari menuju rumah sakit dekat rumah Gestu. Aku berlari. Sesampainya didepan ruang UGD, Gestu sudah tiada. Gestu Rosmayadi Asad-ku. Kata maaf tadi siang, adalah kata maaf terakhir dari Gestu. Bye my lovely boy... you will always be in my hearts, Ges.

Jumat, 30 November 2012

[SHORTSTORY] Mengalah


Luh Putu Paramahittha Sari Suardika's POV

Aku dan Alvi telah menjalin hubungan selama 1 tahun lebih, hubungan kami biasa saja. Sampai suatu ketika Rere datang di hubungan kami. Sarah adalah mantan pacar Alvi, mereka putus karena Rere sudah tidak kuat lagi dengan sikap Alvi yang egois. Rere memang selalu bilang bahwa ia tidak suka dengan Alvi, tapi itu tidak benar, aku bisa melhat dari tatapan Rere, ia masih sangat sayang, mungkin Rere menyesal dengan itu. Rere, ia selalu datang disaat aku sedang dengan Alvi. Mungkin tidak disengaja, tapi tatapan Rere pada Alvi setiap kali bertemulah yang membuatku ingin teriak pada saat itu juga. Rere. Rere. Kadang jika aku sedang ngobrol dengan Alvi pun, topik yang dibahas yaitu Rere. Betapa muaknya!

Entahlah, tapi aku merasa mereka berdua masih saling sayang. Kadang aku berfikir, pantas kah aku tuk berada disamping Alvi? Aku itu hanya pelarian Alvi dari sarah ? jujur aku masih belum bisa menemukan jawaban yang pasti, aku selalu ingin membicarakan hal ini dengan serius bersama Alvi, tapi ada saja hal yang membuatku harus menahan rasa penasaranku ini.

Kini Rere sudah memiliki pasangan yaitu Afif. Ketika tau kabar itu entah kenapa hatiku menjadi lega. Berbeda dengan Alvi, ketika dia tau kalau Rere sudah memiliki pasangan, terlihat mimik sedih di wajahnya. Semakin banyak pertanyaan yang melintas di fikiranku. Apakah iya Alvi masih sayang sama Rere? Apa benar aku hanya pelampiasannya? Apa benar mereka masih ada kontak selama ini ?. Betapa bodohnya aku ini! Tak pernah terfikir olehku selama ini. Mengapa aku baru menyadari semuanya? Mengapa harus selama ini aku baru sadar? Dan lagi mengapa aku baru sadar ketika aku benar-benar sayang pada Alvi?!

Rasa penasaran ini semakin hari semakin membuatku pusing. Aku sudah terlanjur sangat sayang pada Alvi. Aku tidak bisa melepaskan semuanya begini saja. Aku masih harus tau semuanya.

Kini Alvi berubah. Ia tidak lagi peduli padaku, ia selalu menghilang disaat aku benar-benar membutuhkannya, ia langsung pulang ketika bel berbunyi, ia tidak pernah pulang sore untuk main bola, ataupun ngobrol denganku. Alvi menjadi sosok yang misterius. Menjadi Alvi yang angkuh, yang sensi, yang tidak lagi pedulikan aku. Apa ini semua karena Rere?

Dulu Alvi pernah marah besar kepadaku, karena banyak isu yang bilang kalau aku dan Ozy masih memiliki rasa, tapi semua itu bohong. Aku sudah benar-benar move dari Ozy. Setelah meyakinkan Alvi, dia percaya. Itu adalah pertama kalinya Alvi marah padaku, aku takut aku tak akan melakukan hal yang bisa memancing amarah Alvi lagi. Aku dan Ozy memang tidak saling menjauh karena Ozy hanya sebatas teman, dan aku percaya bahwa Alvi juga percaya padaku. Ingin pula aku marah pada Alvi mengapa ia dekat sekali dengan Rere, tapi aku menahannya, aku selalu berusaha untuk positive thinking aku percaya Alvi, karena aku sayang Alvi.
Alvi memainkan gitarnya di depan kelasku, siang itu anak-anak sudah pulang semua. Aku berdiri dibalik jendela tepat dimana Alvi sedang duduk. Kudengar ia menyanyikan lagu ‘The Man Who Can’t Moved’, apa itu buat Rere ? apa iya dia belum move ? lagi-lagi, berjuta pertanyaan melintas difikiranku.
Kali ini aku memberanikan diri untuk bertanya, kusampiri Alvi. Ia melihatku, tapi langsung memalingkan wajahnya. Dadaku menjadi sesak seketika. Aku duduk disamping.

“Alvi, belum pulang ?”
“Belum”
“Vi..”
“Apa ?”
“Alvi kenapa ko jadi jutek gini ?”
“Biasa aja”
“Hmm. Vi, Titha mau nanya, hmm, Kita udah setaun pacaran, kita juga saling deket kan, kita...”
“Langsung ke inti aja, ga ada waktu” potong Alvi. jantungku berdegup kencang.
“Hm, oke. Lagu tadi buat Rere Vi?”
“Bukan”
“Kamu masih belum move dari Rere?”
“Udah jam 4, aku pulang duluan ya. Bye!”

Alvi tidak menjawab. Ia meninggalkanku sendiri. Apa benar ia masih belum move ? apa benar ia masih setengah hati ? Alviii! Aku sudah mendapat bukti dari Alvi.
***

“Hai Re!”
“Hai Ti”
“Re, gue mau nanya”
“nanya apaan Ti? “
“Hm, sebelumnya sorry nih yaa terlalu to the point, gue ga ada waktu soalnya”
“Iya Ti”
“Lo.. hm, masih sayang sama Alvi ?”
Muka Rere mendadak berubah, dari yang tadinya senang, menjadi takut.
“Hah? Hm, ngga ko Ti, lo ko nanya gitu? “
“gapapa Re, masih suka yaa ? jujur aja gapapa”
“Ga ko Ti, beneran..” Rere menjadi sedikit gagap.
“Hm, yaudah makasih yaa Re atas waktunya. Hm satu lagi, lo udah ga sama Afif kan ?”
“Iya Ti, kenapa ?”
“Gapapa ko! Thanks yaa, atas waktu lo”
“Iya Ti”  muka Rere masih terlihat bingung, shock, sekaligus lega.

Yap! Aku tau semuanya, Alvi jelas-jelas masih sayang dengan Rere, dan begitu pula Rere. Ada satu hal yang masih membuat aku bingung, sudah satu tahun aku berpacaran dengan Alvi, tapi mengapa baru sekarang aku tau kalau dia blm move. Mungkin karena aku ga peka, atau karena aku ga peduli, atau jangan-jangan mereka backstreet. Hmm, keep calm Titha, jangan nethink gitu. Oke sekarang aku harus berindak.
Siang ini aku, Rere, dan Alvi, janjian buat ketemu di taman belakang sekolah. Rere dan Alvi sudah terlihat di belakang, muka keduanya terlihat bingung. Aku segera menghampirinya.

“Hei. Udah lama nunggu ya ? sorry yaa, hehehe”

“Gapapa ko Ti” jawab Rere.

“Langsung intinya yaa, hmmm aku tau ko.. kalian masih sama-sama suka. Tapi kalian sembunyiin semua. Aku tau kalian tuh masih sayang satu sama lain. Emang berat ngomong kaya gini, kalau kalian mau mengelak juga percuma, aku punya bukti, hm ga usah aku kasih tau buktinya yaa.. oiya selain mau ngasih tau tadi, aku juga mau bilang ke Alvi, hmm.. Vi aku mundur, aku ga bisa ngelanjutin hubungan kita, aku ga mau kita jalanin semua lebih lanjut tapi ga dengan sepenuh hati, aku sayang kamu, dan aku yakin kamu tau itu, tapi rasa sayang kamu ke Rere lebih besar.. dan”

“Kamu ngomong apaan si Titha??” Potong Alvi.

“Udah Vi, aku rela, aku seneng kalian seneng. Lagian aku juga gapapa ko, aku bakalan lebih seneng lagi kalau kalian berdua bisa bersama seperti dulu.” Aku menarik tangan Alvi dan Rere, lalu menyatukannya “kalian itu cocok kalau bersama. Seneng deh liat kalian bahagia” Alvi menepis tangannya. “Ga lucu Ti! Rere masih punya Afif, dan gue masih belum ngizinin lo buat niggalin gue!” nada Alvi semakin tinggi. “Alviano Aditya.. Rere udah lama putus.. Rere ngarepin kamu, dan kamu pun begitu kan ? udah jangan fikirin aku Vi.. intinya sekarang kalian berdua jadian! Gue ga mau tau! Hehe, gue caw dulu yaa.. mau ada les. Bye pasangan baru..... muah muah!”
Memang berat untuk melepaskan semua, tapi jujur aku senang dan lega melihat mereka berdua sekarang ini. Memang benar merelakan orang yang kalian sayang, bahagia dengan orang yang dia sayang itu memang melegakan. Alvi dan Rere, aku harap kalian bahagia bersama.. :---)

Rabu, 21 November 2012

[SHORT STORY] Just The Way You Are


Tio meninggalkanku sendiri dikelas dengan setumpuk tugas fisika. Entah kenapa tiba-tiba dia bersikap sedingin ini, yang aku tahu dia mulai bersikap seperti ini sejak istirahat pertama, saat aku dan Adam pergi ke kantin bersama.

Akhir-akhir ini Tio berubah total. Ia tidak pernah mengajakku ngobrol, atau bahkan hanya untuk bertatap muka denganku pun tidak. Sejujurnya aku memang memendam rasa kepada Tio, tapi aku yakin dia tidak memiliki rasa sedikitpun kepadaku, dulu Adam pernah bilang kepadaku kalau Tio sedang naksir sama salah satu anak dikelasku. Hmm, aku rasa cewek yang dimaksud itu adalah Sarah, mereka berdua sering ke Cozy café. Tio memang bukanlah seorang pria yang sempurna, yang eksis, Tio juga bukan anak yang tergolong kaya, berbeda dengan Adam yang serba berkecukupan. Tapi, aku suka Tio, suka karna apa adanya, bukan karena ada apanya.

***

Hari ini adalah puncaknya, hari ini Tiotidak lagi bersikap dingin, hari ini ia menjadi orang yang sangat pemarah.

“Nis, bisa ga sih kamu ga usah deketin Adam gitu ?!”
“Deketin gimana sih Ti?”
“Kemarin, kamu ke kantin bareng dia, pulang bareng dia. Masih ada Sarah kan ? kenapa harus Adam?”
“Emang kenapa sih? Dia sahabat aku, lagian hak aku dong mau ke kantin bareng siapa! Apa hak kamu ngelarang aku! Kalo kamu ga suka sorry!” Aku pun berlari pergi meninggalkan Tio. Semua anak yang ada di kantin melihat kearah kami. Tio hanya bisa terdiam, dan kembali ke kelasnya yang kebetulan dekat dengan kantin. Bodohnya aku untuk apa aku minta maaf itu kan buka salahku!

***

Sesampainya dikelas, aku hanya bisa menangis di pundak Sarah, aku terus menangis, semua anak menanyakan pada Sarah apa yang terjadi kepadaku, tetapi Sarah hanya menjawab dengan senyuman, Sarah memang selalu mengerti perasaanku. Untungnya hari ini semua guru sedang rapat, jadi aku tidak perlu menahan tangisku sampai pulang sekolah.

Sejujurnya aku tidak ingin membentak Tio di kantin tadi, sungguh sungguh tidak mau, tapi batas kesabaranku sudah habis, aku juga tidak ingin meninggalkan Tio, tapi aku sudah hampir menangis, dan aku tidak mau menangis di kantin, terutama di depan Tio-ku. Aku yakin sekarang Tio pasti tidak ingin bertemu denganku. Tio kenapa kamu harus sesensi ini ?
***

Hari ini adalah hari ulang tahunku. Aku sudah mengundang seluruh anak SMA Manquer untuk datang kepesta ulang tahun ku. Rencananya aku akan menyanyikan lagu ‘Just The Way You Are’ untuk Tio. Tapi rencana itu gagal, ketika aku berada didepan pintu masuk untuk menyambut tamuku, aku melihat Tio datang bersama Sarah, tentu saja aku speechless, ketika melihatnya aku langsung pergi ke halaman belakang, Sarah ingin mengejar tetapi ia ditahan oleh Tio. Adam yang tidak sengaja melihat kejadian tadi langsung berlari mengejarku.

Aku terus berlari, sampai-sampai hak sepatuku patah, akupun terjatuh, tapi aku tidak peduli, aku duduk tepat disebelah air mancur, aku terus menangis. Tiba-tiba terdengar suara yang kukenal, suara yang lembut, suara itu milik Adam. Adam lalu menenangkanku, ia memakaikan jas-nya kepadaku.

“Udahlah Nis, lo ga usah nangis gini, masih banyak cowo lain Niss”
“Ngga Dam. Ga ada yang bisa gantiin Tio. Lo ga ngerti!”
“Gue ngerti Nis, gue ngerti. Lo terlalu berharap ke Tio, ujung-ujungnya jatuh kan ?”
“Gue ga jatuh Dam, dia bukan cowo PHP ko!”
“Terus lo terima gitu dihari ulang tahun lo, lo malah kaya gini”
“Dia seneng Dam.. Gue.. ikut seneng ko” akupun tersenyum.
“Ga gini Nis. Ga usah sakitin diri kamu sendiri! Gue ga suka lo gini!”
“hmm, gue bodoh ya Dam!”
“No you’re not!”
“Dam.. napa sih lo mau nemenin gue disini?”
“hmm, Annisa Novalia Bening.. asal lo tau, gue.. hmm gue suka sama lo!”
“Ih Adam! Ga usah bercanda laah, lagi ga mood!”
“Gue serius Nisaa!”
“Hah ? hm.. Dam, lo tau kan gue suka sama siapa? Sorry Dam, but i can’t”
“It’s oke. Yang penting gue udah lega, Nis”
“Hmm, masuk yuk! Potong kuee, hehe” aku mengalihkan pembicaraan ini.
“hapus dulu tuh air mata ntar jelek loh hehe”
“oiya, kayanya gue bakal tetep nyanyi deh hehe”
“nah gitu dong! Itu baru Nisa yang gue kenal!”
“hehehe”
***

Aku naik ke panggung dengan gitar klasikku. Aku duduk, lalu menatap Tio dalam-dalam, dengan tatapan mautku.. Tio, harapan yang kau beri mungkin palsu, tapi tidak denganku.

“Hai semua, makasih sudah datang ke pestaku.. Malam ini aku akan menyanyikan satu buah lagu.. semoga kalian menyukainya”

Oh his eyes, his eyes
Make the stars look like they're not shining
His hair, his hair
Falls perfectly without him trying

He's so wonderful
And I tell him everyday

Yeah I know, I know
When I compliment him
He wont believe me
And its so, its so
Sad to think he don't see what I see

But every time I ask him do I look okay
I say

When I see your face
There's not a thing that I would change
Cause you're amazing
Just the way you are
And when you smile,
The whole world stops and stares for awhile
Cause boy you're amazing
Just the way you are

Semua melihat kearahku. Aku berdiri, semua orang bertepuk tangan kecuali Tio, aku hanya tersenyum melihat itu.

***

Seminggu sudah setelah hari ulang tahunku itu, aku dan Sarah menjadi agak jauh, entah apakah itu aku atau Sarah yang menjauh. Ingin sekali aku meminta maaf.
“Hmm. Sar ?”
“Iya Nis?”
“Gue.. Gue minta maaf yaa.. ga seharusnya gue langsung nangis ga jelas kaya kemarin gitu”
“Gue yang harusnya minta maaf Nis, ga seharusnya juga gue pergi sama Tio..”
“Gapapa ko Sar, kalian kelihatan cocok..”
“Ga Nis, dia itu cuman suka sama kamu, lagian aku juga ga suka sama dia”
“Suka sama aku kamu bilang ? No way Sar.. No”
“Serius Nis.. dia cuman mau bikin kamu cemburu aja”
“Di hari ulang tahunku ? oh god! Yang benar saja”
“Dia ga suka kamu dekat sama Adam, karena dia tahu Adam suka sama lo, dia gamau lo suka sama Adam”
“Kenapa ga mau bertindak ? oh Tio.. gue juga suka sama lo koo”
“Hmm gatau deh Nis, tanya aja deh Nis, dari pada mati penasaran lo, haha”
“Entah lah.. gue pikir-pikir dulu aja deh Sar. Oiya pulang ke caf
é biasa yuk!”
“oke, nanti lo ke perpus aja yaa.. gue ada disana ko”
“sipoo!!”

***

Bel sekolah berbunyi tanda waktu pulang, aku lalu bergegas ke perpustakaan untuk menemui Sarah. Di koridor kelas 7 aku melihat Tio sedang asyik ngobrol dengan Sarah. Aku lalu menghampirinya “Tega kamu Sar, udahlah ga usah banyak alesan lagi, aku ga butuh omong kosong kamu! Ga usah deketin gue lagi deh!” aku pergi, untuk yang kedua kalinya aku menangis karna hal yang sama, Tio-Sarah. Gue pikir Sarah teman yang baik, tapi.. NO! emang bangke semua yaa, ga ada yang ngertiin gue.

***

Aku duduk di depan kantin kejujuran sekolahku, terdengar suara langkah kaki yang semakin lama semakin dekat dan keras. “Nis!” aku mengenali suara itu.. tunggu suara itu.. Tio!

“Ngapain nyamperin ? Sarah kasian tuh ditinggal sendiri kan?” aku kemudian berdiri, tapi Tio memegang tanganku, seketika itu tanganku menjadi dingin, aku langsung terdiam, layaknya patung.
“Nis, dengerin dulu.. Maaf aku ngediemin kamu, maaf aku jadi dingin, maaf Nis maaf..”
“iya Ti, tapi sorry, aku ga butuh permintaan maaf kamu, kamu ga salah, itu hak kamu kok”
“Ngga Nis, aku salah, maaf. Aku.. aku cuman ga suka kamu sama Adam”
“tapi kenapa ? dia itu sahabat aku, dia juga sahabat kamu kan ?”
“iya aku tau, tapi dia itu suka sama kamu!”
“iya aku udah tau, lantas ?”
“Iya aku ga suka pokoknya !”
“Ya kenapa ? pasti ada alasan yang jelas bukan ?”
“Aku.. aku suka sama kamu Nis! Aku ga mau kamu sama Adam, aku cemburu, tadi itu diatas aku cuman lagi nanya ke Sarah tentang perasaan kamu Nis, maaf aku ga ngasih tau sebelumnya ke kamu, aku emang pengecut, ga punya keberanian buat mengungkapkan ini semua Nis, maaf”
“ga usah minta maaf terus Ti, gapapa ko” Aku pun tersenyum.
“Aku emang ga setajir Adam, ga setinggi Adam, ga sekece Adam,, tapi, will you be mine ?”
“Oh Tioo, be your self! Just the way you are! Yess of course, i’m yours!” Tio lalu memelukku, dari belakang kulihat Sarah tersenyum kearah kami.
maaf karena telah berburuk sangka Sar ...

Senin, 05 November 2012

[SHORTSTORY] Keenan & Hujan

Haloo... Hmm, kai ini Ditra mau ngepost tentang naskah drama yang Ditra buat, sebenernya ini itu tugas dari ibu Ken, tapi dikarenakan naskahnya terlalu bagus, jadi ga ada salahnya dong Ditra share di blog hehe, oh iya insyaallah nanti Ditra ngepost 'Keenan & Hujan' juga tapi yang versi cerpen- nya. so check it now, hope you all like this!


Selasa, 25 September 2012

[SHORTSTORY] Stuck On You

          Matahari baru saja terbit. Gerbang sekolah baru dibuka. Mungkin murid lain pun baru saja membuka matanya. Berbeda dengannya, ia selalu bangun pagi dan menjadi siswa pertama yang datang ke sekolah. Yaaa dia adalah cowo kelas dua IPA I yang bernama Radi. Dia termasuk cowo terpandai dan terkeren di sekolah ini. Ia juga seorang kapten tim Basket. Cewe mana yang ga terpikat hatinya oleh cowo ini. Haha.
          Aku sendiri adalah anak kelas satu IPA II yang baru pindah ke sekolah ini. Aku termasuk anak yang tidak terlalu aktif di kegiatan sekolah, yaa bisa dibilang aku ini kutu buku. Aku memang sudah mengenal sekolah ini sebelumnya, siapa sih yang tidak tahu sekolah yang selalu mendapat juara 1 ditingkat Internasional ini.
          Aku memiliki teman sekaligus sahabat yang bisa dibilang sudah seperti keluargaku sendiri, ia adalah Lia. Temanku yang satu ini cerewetnya minta ampun, haha, eittss tapi dia pintar loh. Dia pernah mengikuti Olimpiade Sains, tapi cuman masuk ke Final aja, pantaslah saingannya saja dari berbagai sekolah di Kota ini.